Senin, 30 Agustus 2010

KEKUATAN IKHLAS

Rahasia Ikhlas

Ikhlas adalah melakukan amal, baik perkataan maupun perbuatan ditujukan untuk Allah semata. Al-Qur'an menyuruh kita ikhlas (Q.S. Yunus:105). Rasul SAW mengingatkan, "Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata," (H.R. Abu Dawud dan Nasa'i).

 <b:if cond='data:post.hasJumpLink'>
<div class='jump-link'>
<a expr:href='data:post.url + "#more"'><data:post.jumpText/></a>
</div>
</b:if >


Imam Ali ra juga berkata, "Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah."

Kendati bersimbah peluh, berkuah keringat, menghabiskan tenaga, menguras pikiran, kalau tidak ikhlas, sebesar apa pun amal, sia-sia dimata Allah. Maka, sesungguhnya rugi orang yang bertemmpur, mempertaruhkan nyawa dengan niat ingin disebut pahlawan, atau orang yang sedekah habis-habisan hanya ingin disebut dermawan.
Seorang shufi menuturkan, "Ikhlas berarti engkau tidak memanggil siapapun selain Allah Swt. Untuk menjadi saksi atas perbuatanmu. " Ikhlas menjadi benar-benar teramat penting yang akan membuat hidup ini menjadi indah, ringan, dan bermakna.

Ikhlas akan membuat jiwa menjadi independen, merdeka, tidak dibelenggu pengharapan akan pujian. Hati menjadi tenang karena ia tidak diperbudak penantian endapat penghargaan ataupun imbalah dari mahluk. Penanatian adalah hal yang tidak nyaman, menunggu pujian atau imbalan adalah hal yang dapat meresahkan, bahkan bisa mengiris hati bila ternyata yang datang sebaliknya, caci maki. Orang yang tidak ikhlas akan banyak menemui kekecewaan dalam hidup, karena ia banyak berharap pada makhluk yang lemah, ia mengikatkan diri pada tali yang rapuh.

Jabatan takkan membuat terpesona hati orang yang ikhlas. Ia tidak ujub dengan jabatan setinggi langit, dan tidak minder dengan jabatan yang rendah. Dalam benaknya, Allah menilai bukan dari jabatan, tapi tanggung jawab terhadap amanah dari jabatan itu. Ia sangat yakin akan janji dan jaminan Allah yang mahakuasa.

Justru imbalan manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan imbalan Allah Swt. Sungguh tak ada risau, tak kuatir ditipu, dikhianati, bila dekat dengan seorang hamba yang ikhlas. Justru sebaliknya, orang akan merasa nyaman karena sikap dan tutup katanya menghargai dan menyejukan, penuh manfaat, karena orang yang ikhlas perhatiaanya fokus memberi yang terbaik untuk Allah yang selalu menatapnya. Imbasnya akan memberi kebaikan kepada orang yang berada di sekitarnya. Dan Allah beri penghargaan pada mereka (Q.S. An-Nisa: 146). Subhanallah, adakah yang lebih berharga dari pemberian Allah? Maka, nikmat uthan yang manakah yang kita dustakan?

Ada manfaat ikhlas antara lain, yaitu:


  1. Hidup akan tenang karena hati selalu berjaga-jaga untuk mengevaluasi dan meluruskan niat dalam beramal.
  2. Selalu dimudahkan dalam segala urusan.
  3. Memiliki orientasi hidup yang mampu menjangkau jangka panjang, yaitu akhirat.
  4. Pemberat/penambahpahala dalam beramal.
  5. Mendapat posisi sebaik-baiknya hamba di sisi Allah dan juga manusia.

4 Prinsip Ikhlas

Fatwa Syeikh Abul Hasan As-Syadzili, "Ikhlas merupakan nur dari nur Allah Swt yang ditipkan Allah dalam hati hamba-Nya yang beriman, lalu memotong denga nur itu dari selain-Nya. Itulah prinsip ikhlas. kemudian ikhlas itu bercabang menjadi empat kehendak:

  1. Kehendak ikhlas dalam beramal untuk mengagungkan Allah Swt.
  2. Kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah Set.
  3. Kehendak ikhlas untuk neraih balasan dan pahala.
  4. Kehendak ikhlas dalam membersihkan diri dari cacat-cacat yang tidak bisa dihalau, selain tindakan tersebut."
Semua kehendak tersebut kita lakukan. Barang siapa berperang salah satu dari okategori di atas, ia disebut orang yang ikhlas (mukhlish) yang mendapatkan derajat di sisi Allah Swt. Sebagai firmannya:
"Allah maha melihat atas apa yang mereka kerjakan"

Untuk itulah Allah Swt menceritakan, sebagaimana dikisahkan Jibril kepada Rasulullah Saw, "Ikhlas itu merupakan rahasia dari rahasia-Ku, yang kutitipkan dari hati yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku."

Apabila engkau ingin selamat dari tipudaya, maka ikhlaslah dalam beramal semata karena Allah Swt disertai ilmu pengetahuan. Dan janganlah engkau rela sedikit pun terhadap nafsumu. Aku melihat seakan-akan aku thawaf di ka'bah, untuk mencari ikhlas dalam diriku. Aku sedang menyelidiki ikhlas dalam rahasia batinku. Tiba-tiba ada suara yang teruji padaku, "sudah berapa kali engkau ragu-ragu bersama-sama orang yang ragu. Sedangkan Aku adalah Maha Mendengar, lagi mahadekat, Maha Mengetahui lagi maha Mengawasi? Pengenalanku mencukupkan dirimu dari ilmu generasi awal dan akhir, selain ilmu Rasul dan para Nabi."

Ikhlas itu ada beberapa kategori: Ikhlas dari seorang yang mukhlis, maka ia ikhlas bersama-Nya dan ikhlas bagi-Nya.
Dalam hal ini terbagi dua:

  1. Ikhlas kaum "Shadiqin".
  2. Ikhlas kaum "Shiddiqin".
Ikhlas Shadiqin semata untuk mendapatkan balasan dan pahala, sedangkan ikhlasnya Shiddiqin, senata untuk memandang Wujud Al-Haq, sebagai tujuan, bukan tertuju pada sesuatu di sisi-Nya. Maka barang siapa disinggahi hatinya oleh ikhlas yang sedemikian rupa itu, maka ia dikategorikan orang yang dikecualikan dari ucapan musuh-Nya, dengan firman-Nya:
"...dan pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas," (Q.S. Al-Hijr: 39-40).

Gambaran Ilmu Ikhlas

Kalau gambaran ikhlas iru sebagaimana diajarkan Allah melalui Jibril yang disampaikan kepada bagin Rasul tersebut, maka betapa banyaknya diantara kita yang tisak memilikinya. Sebab, hanya hamba-hamba yang dicintai Allah saja yang dapat memiliki "makhluk" ikhlas ini.

Menurut Imam al-Qusyairi an-Naisabury, bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuan.

Bagian sulitnya menemukan sosok ikhlas di hati semua orang. Oleh sebab itu, Rasul lantas memberi jaminan pada umatnya yang mempunyai sifat terhormat ini. Baginya, demikian Rasulullah, belenggu apapun tak akan berhasil, walau mampir sekali pun di hati seorang yang ikhlas (Mukhlis).

Seperti apakah ciri-ciri orang yang ikhlas? Sahabat Anas ibnu malik menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, "Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara; Ikhlas beramal hanya bagi Allah, memberikan nasihat yang tulus kepada seorang penguasa dan tetap berkumpul dengan masyarakat muslim."


Begitu beratnya sidat ini menjadi pola hidup seseorang, sampai-sampai abu ya'qub as-Susi burujar, "Jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya memerlukan keikhlasan lagi."

Bagi seorang yang ikhlasan, seluruh perbuatannya akan selalu berdasarkan suara nurani untuk kebaikan semua orang dan semua makhluk. Jika timbul dalam hatinya sebuah niat baik, ia akan melakukannya. Hidupnya mengalir seperti air bah, menerjang apa saja yang ada di depannya. Untuk apa yang dia perbuat, dia sudah melupakan apa yang disebut dengan pujian dan cercaan. "Amalnya tak lagi memberi ruang bagi lahirnya pujian atau cercaan," kata Dzun Nun al-Misry. Dia akan tetap bekerja sesuai dengan pesan Allah, meski manusia di sekitarnya memberikan pujian atau malah mencelanya.

Ikhlas : Kekuatan yang Menyembuhkan

Kekuatan jiwa adalah sebuah potensi yang tidak tampak tetapi efeknya luar biasa. Dengan menggunakan kekuatan jiwa, berbagai penyakit mulai dari yang ringan sampai hingga berat sebenarnya dapat disembuhkan.

seperti diungkapkan praktisi dan pengajar penyembuhan holistik, Reza Gunawan, pada dasarnya setiap manusia bisa menyembuhkan dirinya sendiri, tapi tidak semua oranga tahu caranya. Salah satu kunci kekuatan jiwa yang dapat menyembuhkan penyakit adalah kekuatan ikhlas. Menurut Reza, rasa ikhlas secara sederhana dapat diartikan dengan perasaan berserah diri kepada Allah.

"Ikhlas adalah yang mungkin hanya dapat digambarkan dengan perasaan seperti ini. Apapun kenyataan hidup, sudah tidak lagi berbenturan dengan keinginan dan hasarat karena kita sudah bisa menerima dengan apa adanya," ungkap Reza di sela-sela kampanye "Mizone jadi 100% Kamu" di Jakarta.

Ikhlas, terang Reza, dapat menyembuhkan dengan cara menyelaraskan tubuh dan pikiran, selain juga menetralisir pikiran dan perasaan supaya tidak terpendam dan menumpuk dalam hati. Ikhlas merupakan bagian dari konsep sehat secara holistic, yakni keseimbangan dan keselarasan antara tiga unsur, yaitu: tubuh (bodi), pikiran (mind), dan jiwa (mood).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar